Term of Reference

DASAR HUKUM
  1. Undang-Undang Republik Indonesia No. 36 Tahun 1999 Tentang Telekomunikasi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 154, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3881);
  2. Undang-Undang Nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286);
  3. Undang-undang Nomor 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4355);
  4. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (Lembaran Negara Tahun 2016 Nomor 251, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5952);
  5. Peraturan Presiden Nomor 131 Tahun 2015 tentang Penetapan Daerah Tertinggal Tahun 2015 – 2019;
  6. Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2017 Tentang Penetapan Pulau-Pulau Kecil Terluar;
  7. Peraturan Pemerintah Nomor 52 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Telekomunikasi;
  8. Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum sebagaimana diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2012 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum;
  9. Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 1 tahun 2010 tentang Penyelenggaraan jaringan Telekomunikasi sebagaimana diubah dengan Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 7 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 01/PER/M.KOMINFO/01/2010 Tentang Penyelenggaraan Jaringan Telekomunikasi;
  10. Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 13 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Jasa Telekomunikasi; 2
  11. Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika No. 22 Tahun 2015 tentang Rencana Strategis Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia sebagaimana diubah dengan Peraturan Menteri Komunikasi Dan Informasi Nomor 21 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Komunikasi Dan Informatika Nomor 22 Tahun 2015 Tentang Rencana Strategis Kementerian Komunikasi Dan Informatika Tahun 2015-2019;
  12. Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 3 Tahun 2018 tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Aksesibilitas Telekomunikasi Dan Informasi;
  13. Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 10 Tahun 2018 tentang Pelaksanaan Kewajiban Pelayanan Universal Telekomunikasi Dan Informatika;
  14. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 85/PMK.05/2018 tentang Tarif Layanan Badan Layanan Umum Balai Penyedia dan Pengelola Pembiayaan Telekomunikasi dan Informatika pada Kementerian Komunikasi dan Informatika;
  15. Peraturan Direktur Utama Balai Penyedia dan Pengelola Pembiayaan Telekomunikasi dan Informatika Nomor 42 Tahun 2017 tentang Pedoman Pengadaan Barang/Jasa Badan Layanan Umum Balai Penyedia dan Pengelola Pembiayaan Telekomunikasi dan Informatika
GAMBARAN UMUM

Dari serangkaian teknologi baru, internet muncul di pertengahan 1990-an sebagai media massa baru yang kuat. Berbentuk jaringan kabel dan telepon satelit yang menghubungkan komputer- komputer, setiap orang yang memiliki komputer di dunia dapat saling terhubung secara online. Dengan beberapa kali klik, kita dapat masuk ke dalam “samudera” informasi dan hiburan di seluruh dunia. Berbicara mengenai pemuasan kebutuhan akan informasi dan hiburan dengan internet, berdasarkan penelitian Pala, ditemukan kaitan antara penggunaan internet dengan kategori sosial penggunanya. Keterkaitan itu, misalnya, antara aktivitas menggunakan internet dengan pekerjaan, aktivitas menggunakan internet dengan pendapatan, dan antara aktivitas menggunakan internet dengan jenis pekerjaan.

Banyaknya varian informasi yang tersedia di internet juga dapat memperkaya khazanah ilmu pengetahuan. Berdasarkan tinjauan yang dilakukan oleh Mudjiyanto, internet merupakan sumber data yang sangat kaya bagi keperluan pelaksanaan penelitian dengan pendekatan kuantitatif dan pendekatan kualitatif. Dengan menjadikan internet sebagai sumber data penelitian, kesadaran akan berbagai saluran komunikasi yang ada pada medium internet menjadi sangat diperlukan.

Walaupun dalam beberapa hal, internet mirip dengan beberapa karakteristik old media yang mengirim pesan dari titik transmisi sentral, tetapi internet lebih dari itu. Penerima pesan bisa mengklik hampir seketika dari satu sumber ke sumber lainnya. Perbedaan signifikan lain dari old media adalah sifat interaktif dari internet. Internet memiliki kapasitas untuk memfasilitasi komunikasi antarmanusia secara real time. Oleh karena itu, setelah manusia semakin sering menggunakan (akses) internet untuk berkomunikasi, muncul istilah komunikasi web.

Komunikasi web menggeser banyak dari kontrol komunikasi melalui media massa ke penerima dan membalikkan proses komunikasi old media. Penerima tak lagi hanya menerima serangkaian pesan, seperti biasa kita jumpai dalam siaran berita televisi. Penerima kini bisa berpindah ke lusinan, atau bahkan ratusan alternatif melalui jaringan yang mirip sarang laba-laba (web) yang secara teoretis dapat menghubungkan setiap penerima dan pengirim di planet ini.

Dalam era serba digital seperti sekarang ini, perkembangan media digital dan teknologi informasi memberikan tantangan bagi pengguna dalam mengakses, memilih, dan memanfaatkan informasi dan kemampuan dalam menelusuri informasi tersebut membutuhkan ketepatan dan kualitas informasi yang diperoleh oleh penggunanya.

Kemajuan teknologi dan digital yang semakin hari semakin maju dengan sangat pesat memaksa masyarakat dari segala sektor untuk mampu mengikuti perkembangan digital tersebut. Namun keterbatasan informasi dan pelatihan digital yang berada di masyarakat menjadi kendala terbesar masyarakat untuk bisa mengupgrade informasi dankemampuan menggunakan teknologi digital.

Disatu sisi, masyarakat dihadapkan dengan kenyataan yang mengharuskan mereka untuk menggunakan teknologi digital itu sendiri, tanpa adanya informasi yang baik dan pelatihan yang bisa mereka lakukan untuk menuntun mereka dalam mengikuti perkembangan teknologi digital.

Keadaan inilah yang menjadikan alasan mengapa program pelatihan media digital sangat diperlukan. Program pelatihan media digital diperlukan untuk mewujudkan pengguna yang mampu mengetahui apa yang mereka butuhkan, strategi dalam menelusuri sumber informasi yang relevan, menimbang, menggunakan dan menyebarkannya secara benar pada seluruhkalangan, masyarakatumum, pelajar, mahasiswa, pelakuusaha dan kalanganlainnya.

Berjalannya teknologi yang semakin maju, mendorong terjadinya perubahan dalam penggunaan teknologi itu sendiri. Pelatihan digital bukan hanya mengenai kemampuan untuk membaca saja, melainkan juga memahami cara menggunakan dan dapat mempraktikkannya dengan baik. Berbicara tentang kemajuan teknologi, berkembang pesatnya teknologi informasi dapat dirasakan setelah lahirnya internet di tengah-tengah masyarakat.

Pembahasan mengenai perilaku penggunaan internet dapat dijelaskan dari beberapa penelitian terdahulu yang telah dilakukan kepada para remaja baik itu remaja SMP, SMA maupun Mahasiswa. Namun sekarang ini, masyarakat umum yang sebelumnya tidak terlalu tergantung dengan dunia digital menjadi pengguna aktif yang juga menjadikan digital sebagai salah satu media untuk berkembang.

Untuk itulah Kementerian Komunikasi dan Informasi Republik Indonesia membuat kegiatan yang diharapkan dapat memperluas wawasan informasi digital, memberi pemahaman terhadap dunia digital yang semakin hari semakin maju pesat seiring berjalannya waktu dan dapat mempraktikkannya dengan baik dan tepat agar tujuan yang diharapkan pengguna dapat tercapai. Contohnya penggunaan teknologi digital untuk pelaku usaha, jika saja mereka mengetahui lebih baik informasi tentang digital dan teknologi, rasanya hal tersebut dapat membantu mereka untuk lebih memajukan juga mengembangkan usaha yang mereka lakukan.

NAMA KEGIATAN

Adapun nama kegiatan ini adalah Digitalisasi Negeri dengan tema “Pelatihan Peningkatan Sumber Daya Manusia Menuju Produk UMKM Go Digital 2021 program kerja Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Informatika (KOMINFO) RI yang dilaksanakan dengan sepuluh kali Pelatihan yang diadakan di Jawa Barat (Bandung), Jawa Tengah (Semarang), DIY (Jogjakarta), Jawa Timur (Malang), Bali (Denpasar), Bangka Belitung (Belitung), Sumatera (Medan), NTT (Labuan Bajo), Banten (Serang), DKI Jakarta (Jakarta).

TUJUAN

Adapun tujuan kegiatan Digitalisasi Negeri ini adalah untuk:

  1. Mendorong masyarakat agar mengoptimalkan pemanfaatan internet sebagai Sarana edukasi dan bisnis.
  2. Memberdayakan masyarakat agar dapat memilah dan memilih informasi yang dibutuhkan dan bermanfaat.
  3. Memberikan informasi yang lengkap kepada masyarakat terkait pembangunan Infrastruktur TIK yang dilakukan oleh Pemerintah khsusnya oleh BAKTI.
  4. Mendorong dan memotivasi agar masyarakat Indonesia mampu menjadi pelaku Industri Startup dan Ekonomi Digital demi meningkatkan kesejahteran.
  5. Mewujudkan jaringan informasi serta media komunikasi dua arah antara masyarakat dengan masyarakat maupun dengan pihak lainnya.
  6. Masyarakat dapat menggunakan atau mengakses internet serta bertukar informasi dan komunikasi menjadi lebih bermanfaat.
SASARAN

Sasaran dari Kegiatan Digitalisasi Negeri dengan tema “Pelatihan Peningkatan Sumber Daya Manusia Menuju Produk UMKM Go Digital 2021 adalah:

  1. Mengedukasi masyarakat untuk lebih bijak dalam menggunakan media untuk bertukar informasi.
  2. Menghindarkan masyarakat dari berita atau informasi yang belum terbukti kebenaranya.
  3. Masyarakat dapat menggunakan atau mengakses internet serta bertukar informasi dan komunikasi menjadi lebih bermanfaat.
  4. Masyarakat mampu memanfaatkan internet untuk menunjang dan meningkatkan perekonomian keluarga.
RUANG LINGKUP

Ruang Lingkup dari pelaksanan kegiatan ini yaitu sebagai berikut:

  1. Mengadakan Kegiatan Digitalisasi Negeri dengan tema “Pelatihan Peningkatan Sumber Daya Manusia Menuju Produk UMKM Go Digital 2021 Tahun 2021
  2. Menyusun dan melakukan pengorganisasian kegiatan.
  3. Mengawasi berjalannnya program kerjasama sesuai dengan perencanaan yang telah disusun.
  4. Menyediakan sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk menunjang acara sesuai dengan perencanaan.
  5. Menerapkan standar protokol kesehatan dan jaga jarak aman
  6. Menerapkan protokol kesehatan dengan menyediakan alat perlindungan diri (APD) bagi panitia dan para Narasumber seperti: masker, Faceshield dan Handsanitizer
  7. Menerapkan protokol kesehatan dengan cek suhu panitia dan narasumber menggunakan thermogun.
  8. Mengundang Peserta dan Narasumber untuk mensukseskan acara tersebut.
  9. Menyiarkan secara Nasional kegiatan yang diselenggarakan.
  10. Melakukan evaluasi dan membuat pelaporan kegiatan meliputi dokumentasi kegiatan, bukti – bukti pengeluaran asli, serta scan laporan tersebut dalam bentuk softcopy.